Betapa sulit
melupakan seseorang yang pernah mengisi hati. siapapun mungkin pernah
mengalaminya, karna perasaan seperti ini banyak yang merasakannya. Bukan hal
yang tabu ketika kalian membicarakannya agar bisa mengolah rasa itu menjadi
rasa yang tidak menimbulkan kegetiran dalam menjalankan hidup.
Rasa cinta
memang fitrah, tapi keadaan lah yang merubah fitrah itu... menjadi se
buah fitnah. Keinginan untuk dicintai dan mencintai menjadi tombak seseorang
untuk merasakan cinta yang belum halal.
Melupakan
orang yang pernah di cintai memang bukan perkara mudah, bukan hanya orang yang
melaksanakan ‘pacaran’ saja yang pernah merasakan hal ini. Tapi bagi orang yang
tak pernah merasakan pacaran bahkan tak pernah mengungkapkan isi hatinya pun
merasakan hal ini. Ini lah bukti bahwa cinta yang fitrah bisa menjadi fitnah
yang nyata bila tak diolah dengan bijak.
Sadarilah
bahwa kalian sedang melangkah untuk menjadi lebih baik.Sudah seharusnya ketika
si ‘dia’ tak bisa di miliki, dia sudah menjadi bagian masa lalu mu. Kalo memang
sulit untuk melupakannya, tak perlulah tiba-tiba harus dilupakan. Tapi biarlah
si dia menjadi pengingat mu bahwa masih ada cinta sejati yang menunggumu
didepan,karna kalian bukan menanti masa lalu.
Si dia dengan
kehidupannya dan kamu dengan kehidupanmu, ini lah yang harus di tekankan dalam
perjalanan hidupmu. Toh ketika kamu berusaha keras melupakan si dia, dia justru
sedang asyik melenggang tanpa memikirkanmu. Lantas siapa yang merugi kalo
seperti ini.Rasa sakit karna ternyata dia gak memilihmu untuk menjadi
pemberhentian terakhir , bukan berarti menjadikanmu lupa bahwa Tuhan selalu ada
disampingmu.
Apalagi bagi
yang ingin melupakan si dia karna pernah melegalkan aktivitas pacaran. Justru
Tuhan sangat sayang padamu,Dia bebaskan kamu dari aktivitas maksiat. Harusnya
kalian bangga dan senang Tuhan masih perhatian padamu. Kalian dituntun untuk
menjadi orang yang lebih baik lagi, dengan cinta yang diberikanNya. Dari sini
lah kamu harus bersadar diri,bahwa melupakan mantan kekasih yang tak pernah
halal bagimu adalah sebuah kebangkitan. Bangkit dari keterpurukan maksiat yang
pernah kamu lakukan dan bangkit untuk memperjuangkannya.
Anggaplah
cinta pada mantan kekasihmu yang masih tersimpan sampai saat ini adalah bagian
dari pengingatmu akan masa lalu,agar kalian tak pernah mengulanginya
lagi.Sungguh merugilah bagi orang yang dituntun menjadi lebih baik,namun dia
kembali mengikuti alur masa lalunya.
Sedangkan bagi
yang tak pernah pacaran, tapi pernah merasakan jatuh cinta yang sangat pada si
dia. Namun dia tak menambatkan hatinya padamu, dan memilih menambatkan hatinya
pada orang lain. antum mungkin merasakan sakit yang lebih dahsyat, karna tak
pernah mengungkapkan rasa cintamu. Disebabkan ingin menjaga hati dan perasaanmu
juga dia.
Masalah hati
ini memang tak bisa dipecahkan secara rasional, karna sekali lagi ini masalah
perasaan yang hanya kamu lah yang tahu seberapa besar dan seberapa dahsyat.
Namun harus ada keberanian yang kuat untuk melupakannya, sangat disayangkan
penjagaanmu terhadap perasaan harus tercoreng karna cinta yang tak pernah
dihalalkan. Ibarat minum obat, kamu harus berani minum obat yang pahit
sekalipun agar kamu segera sembuh dari sakitmu.
Yang perlu kamu selalu ingat dan tekankan pada hatimu adalah kelak akan ada
orang yang lebih berhak untuk mendapat cinta sejatimu dari pada orang yang
sekarang ini tak mampu di lupakan. Tak mungkin juga kamu akan lebih mencintai
si dia yang tak halal bagimu daripada orang yang telah halal bagimu, hal ini
harus segera ditegaskan dalam hatimu. Bahwa kelak ada orang yang patut kamu
cintai...jodohmu yang HALAL..
Pernikahan
itu telah berjalan 4 tahun, namun pasangan tersebut belum dikaruniai seorang
anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik, "kok belum punya anak juga
ya, masalahnya di siapa ya? suaminya atau istrinya?" Dari berbisik-bisik,
akhirnya menjadi berisik.
Tanpa
sepengetahuan siapapun, pasangan itu pergi ke salah seorang dokter untuk
konsultasi, dan melaksanakan pemeriksaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri
adalah wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apapun dan
tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak ada peluang
baginya untuk hamil dan mempunyai anak. Melihat hasil seperti itu, sang suami
mengucapkan: "inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, lalu menyambungnya
dengan ucapan: Alhamdulillah.
Lalu
sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama
sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang
tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki. Sang suami berkata pada
dokter, "Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi,
tolong, nanti dokter jelaskan pada istri saya bahwa masalahnya ada pada saya,
sementara dia tidak ada masalah apa-apa". Kontan saja sang dokter menolak
dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa dokter, akhirnya sang
dokter setuju.
Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada
wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersamaan sang istri ia memasuki ruang
dokter lalu meminta sang dokter membuka amplop hasil lab, untuk membaca dan
menelaahnya, dan kemudian ia berkata:
"
... Oooh, ternyata Bapak yang mandul, sementara istri Bapak tidak ada masalah,
dan tidak ada harapan bagi Bapak untuk sembuh. Mendengar pengumuman sang dokter,
sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, dan terlihat pada raut
wajahnya, wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah.
Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun
pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat
dan sanak saudara. Lima tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan pasangan itu
tetap bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan,
dimana sang istri berkata pada suaminya, "Wahai Suamiku, saya telah
bersabar selama 9 tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta
cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata: "betapa baik dan
shalihahnya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama 9
tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh
keturunan".
Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin engkau
menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai
keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan
mengasuhnya. Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata:
"istriku, ini cobaan dari Allah, kita mesti bersabar, kita mesti .., mesti
.., dan mesti .." . “ sudah sudah diam, kok malah ceramahin saya sih “
sergah sang Istri.
Akhirnya sang istri berkata: "OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun
lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih !". Sang suami setuju, dan
dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah memberi jalan keluar yang
terbaik bagi keduanya. Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh
sakit, dan hasil lab mengatakan sang istri mengalami gagal ginjal. Mendengar
keterangan tersebut, jatuhlah psikologis sang istri, dan mulailah memuncak
emosinya. Ia berkata kepada suaminya: "semua ini gara-gara kamu, selama
ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa
selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya
ingin memomong dan menimang bayi, saya kan ... saya kan… hix hix hix" .
Sang
istri pun bed rest di rumah sakit. Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya
berkata: "Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga
engkau baik-baik saja". "Haaah, pergi?". Kata sang istri.
"Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal,
semoga dapat". Kata sang suami.
Sehari sebelum operasi, dikabarkan adanya donatur ke tempat pembaringan sang
istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal
dari sang donatur. Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata
dalam dirinya: "Dasar Suami gak tau diri, suami apaan dia itu, istrinya
operasi, eh dia malah pergi meninggalkan aku terkapar dalam ruang bedah
operasi". Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya
datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.
Dan subhanallah ... Setelah 9 bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan
anak. Maka bergembiralah pasangan tersebut, keluarga besar dan para tetangga.
Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan study
S2 dan S3-nya di sebuah fakultas Syari'ah dan telah bekerja sebagai seorang
panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan
Al-Qur'an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari 'Ashim.
Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku
hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa
sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan
membacanya. Hampir saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri
dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung.
Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia
berkali-kali mengulang permohonan maaf kepada suaminya. Sang suami hanya dapat
membalas suara telpon istrinya dengan tangisan pula. Ya…Ketahuilah bahwa sang
donatur itu tidaklah orang lain melainkan Sang Suami itu sendiri. Ya, suaminya
telah menghibahkan satu ginjalnya untuk sang istri. Dan setelah peristiwa
tersebut, selama 3 bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya.
Jika ada keperluan, sang istri berbicara dengan menundukkan kepalanya, karena
tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.
Sahabat, menikah bukanlah untuk sekedar melampiaskan nafsu yang sudah bergolak,
menikah adalah BAI’AT kita kedua kepada Allah SWT untuk membangun sebuah
Komunitas Terkeci yang menegakkan Aturan Allah SWT, nah ketika Aturan Allah SWT
itu kita tegakkan bersama pasangan hidup kita maka yang tejadi adalah
Keindahan, Ketenteraman, Kedamaian, Kebahagiaan dan Ketenangan, dan inilah
Modal untuk MEMACU meraih VISI Keummatan yang lebih besar yaitu Kaaffatan
Linnas dan Rahmatan Lil’Alamin, menebar Kasih Sayang seluas-luasnya untuk
member manfaat kepada seluruh ummat.
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berpikir." (Q.S. Ar Ruum, 030:021)
"Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang, kemudian darinya Dia
menciptakan istrinya, agar menjadi cocok dan tenteram kepadanya."
(Q.S. Al A'raf, 007:189)
"Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan
hidup adalah istri yang sholihah." (H.R. Muslim)
"Jika
datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan akhlaknya, maka
nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya
terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas”. (H.R. At-Turmidzi)
"Wahai generasi muda! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia
nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara."
(H.R. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud)
"Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki
meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu
dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah
akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan,
Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus
nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah
hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat
kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu
padanya." (H.R. Thabrani)
"Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja
kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta /
tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi
nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh,
meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama."(H.R. Ibnu Majah)
Wallahua’lam bish Shawwab ....
Barakallahufikum
....
Salam
santun dan keep istiqomah ...
Semoga
bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...
Seorang sahabat, Mimi namanya, kami
bersahabat puluhan tahun sejak kami sama-sama duduk di sekolah dasar (SD),
selama beberapa tahun itu saya mengenalnya, sangat mengenalnya, Mimi gadis sederhana,
anak tunggal seorang juragan sapi perah di wilayah kami, memiliki mata sebening
kaca, dan lesung pipit yang manis menawan siapa saja akan runtuh hatinya jika
memandang senyumnya, termasuk saya’. dan nilai tambahnya adalah dia seorang
yang sangat sholehah, yang patuh pada kedua orang tuanya.
Tetapi Ranu, Don Juan yang satu ini juga
sangat menyukai Mimi, track recordnya tidak menggoyahkannya untuk merebut hati
Mimi. Sedangkan saya hanya bisa menatap cinta dari balik senyuman tipis
ketegaran. Setiap pagi hari, petugas rutin kantor pos pasti sudah nangkring di
sudut rumah besar di ujung gang kampung kami, (rumah Mimi).
Menunggu pemilik rumah membukakan pintu
demi dilewati selembar surat warna merah jambu milik Ranu untuk sang pujaan
hatinya.
Sedang Mimi yang semula tak bergeming,
menjadi kian berbunga-bunga diserang ribuan rayuan gombal milik don juan.
Merekapun pacaran dari mulai kelas 1 SMP
bayangkan, hingga menikah. Sebagai tetangga sekaligus teman yang baik, saya
hanya bisa mendukung dan ikut bahagia dengan keadaan tersebut. (walaupun hati
ini meratap) Apalagi Mimi dan Ranu saling mendukung, dan sama-sama bisa menjaga
dirinya, hingga ke Pelaminan,,Insyaallah.
Hingga tiba ketika selesai kuliah, mereka berdua ingin mewujudkan cita-cita
bersama, membina keluarga, yang sakinah, mawaddah, dan warohmah.
Namun, namanya hidup pasti ada saja kendalanya, dibalik kesejukan melihat
hubungan mereka yang adem anyem, orang tua Ranu yang salah satu anggota di
DP….!! itu, menginginkan Ranu menikahi orang lain pilihan kedua orang tuanya,
namun Ranu rupanya cinta mati dengan Mimi, sehingga mereka memutuskan untuk
menikah, sekalipun diluar persetujuan orang tua Ranu, dan secara otomatis Ranu,
diharuskan menyingkir dari percaturan hak waris kedua orang tuanya, disertai sumpah
serapah dan segala macam cacian.
Ranu akhirnya melangkah bersama Mimi,
setelah menikah, mereka pergi menjauh keluar dari kota kami, Dumai, menuju
Pekan Baru, dengan menjual seluruh harta peninggalan kedua orang tua Mimi yang
sudah tidak ada, (semenjak Mimi di bangku SMA, orang tuanya kecelakaan). Untuk
mengadu nasibnya menuju ke Pekan Baru " Kota Bertuah" Istilah si Mimi
dan Ranu.
Saya hanya dipamiti sekejap, tanpa bisa
berkata-kata, hanya saling bersidekap tangan didada dan terharu panjang, Mimi
menitipkan salam untuk Ibu yang sudah dianggapnya seperti Ibunya sendiri.
Masih tajam dalam ingatan, Mimi pergi
bergandengan tangan dengan sang kekasih abadi pujaan hatinya “Ranu”, melenggang
pelan bersama mobil yang membawa mereka menuju "Kota Bertuahnya" Pekan
Baru.
Selama setahun, kami masih rutin
berkirim kabar, hingga tahun kelima, dimana saya masih membujang dan masih
menetap tinggal di Dumai, sedang Mimi entah kemana, hilang tak ketahuan
rimbanya, setelah surat terakhir mengabarkan bahwa dia melahirkan anak
keduanya, kemudian setelah itu kami tidak mendengar kabarnya, lagi.
Bahkan Ibuku yang sudah berhijrah hampir
tiga tahun ini di Pekan Baru tempat kakakku juga tidak bisa melacak keberadaan
Mimi, Mimi lenyap ditelan bumi, hanya doa saya dan Ibu serta sahabat-sahabat
yang lain yang masih rutin kami panjatkan, untuk keberuntungan Mimi di sana.
Sampai di suatu siang yang terik, di
hari sabtu, kebetulan saya berada dirumah karena kantor memang libur dihari
sabtu dan minggu, tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara ketokan pintu dikamar,
mbak "Inul" patner kerja (alias Pembantu) kami mengabarkan ada tamu
dari Pekan Baru, siapa gerangan pikir saya ketika itu.
Setelah saya temui, lama sekali saya memeperhatikan tamu tersebut, perempuan
cantik berkulit putih, tapi bajunya sangat lusuh beserta ketiga anaknya, yang
dua laki-laki kurus, bermata cekung terlihat sangat kelelahan, dan seorang bayi
mungil dalam gendongan.
Sejenak saya tertegun, lupa-lupa ingat,
hingga suara perempuan itu mengejutkan saya " Faris….Faris khan !",
sejenak, dia ragu-ragu, hingga kemudian berlari merangkul saya, sambil terisak
keras dibahu saya, saat itu saya hanya bisa diam tertegun dan tak tahu mau
melakukan apa, dan saya tidak bisa menepis karena hal ini bukan muhrimnya.
Lalu setelah ia puas menangis, pelukan
itu baru lepas, ketika kami dikejutkan oleh tangis bayi Mimi yang keras, yang
rupanya tanpa kami sadari telah menyakitinya, dan menekan bayi itu dalam
pelukan kami. Masyaallah !.semoga Allah mengampuni…..
Saya menjauhkannya dari bahu saya sambil masih ragu, berguman pelan
"Mimi…Mimikah ?" Masyaallah…!, sekarang giliran saya yang ingin
merangkul Mimi, tapi karena syari’at masih membayang dibatin. Aku hanya bisa
bersidekap tangan didada tanpa bisa meluapkan perasaanku melihat kondisinya.
Anak-anak Mimi yang melihat kami hanya termangu,
Mimi terlihat lebih tua dari usianya,
namun kecantikan alaminya masih terlihat jelas, badannya kurus, dengan jilbab
lusuh, yang berwarna buram, membawa tas koper berukuran besar yang sudah cuil
dibeberapa bagian, mungkin karena gesekan atau juga benturan berkali-kali,
seperti orang yang telah berjalan berpuluh-puluh kilometer.
Tanpa dikomando saya langsung mempersilahkan Mimi masuk kedalam rumah, membantu
membawakan barang-barangnya, dibantu mbak Inul, meletakkan barangnya di ruang
tamu, rumah saya.
Menunda beberapa pertanyaan yang telah
menggunung dipikiran saya, Saya menatap dalam-dalam, Mimi sedemikian
berubahnya, perempuan manis yang dulu saya kenal kini terlihat sangat
berantakan, Masyaallah !, Mimi …ada apa denganmu!.
Saya menunda pertanyaan saya, hingga Mimi dan anak-anaknya mau saya paksa
beristirahat beberapa hari dirumah saya, ia tidur dikamar ibu yang sudah
dirapikan mbak Inul, saya rindu padanya, dan juga terharu melihat keadaannya.
Beberapa hari beristirahat dirumah saya, saya baru berani menanyakan tentang
kabar keadaannya sekarang. Kami duduk diruang tamu sambil cerita ringan.
Semula Mimi terdiam seribu bahasa pada saat saya tanya keadaan Ranu, matanya
berkaca-kaca, saya menghela nafas dalam, menunggu jawabannya lama, dalam
hitungan menit hingga keluarlah suara parau dari mulutnya…
"Mas Ranu, Ris….sudah berpulang kepada-Nya lima bulan yang lalu".
"Oh" desah saya pelan, kata-kata Mimi membuat saya tercekat beberapa
saat, namun sebelum saya sempat menimpali, bertubi-tubi Mimi menangis sambil
setengah meracau "Mas Ranu kena kanker paru-paru, karena kebiasaannya
merokok tiga tahun yang lalu, semua sisa peninggalan orang tuaku sudah habis
terjual ludes, untuk biaya berobat, sedang penyakitnya bertambah parah,
keluarga mas Ranu enggan membantu, kamu tahu sendiri khan, aku menantu yang
tidak diinginkan, dan ketika Mas Ranu meninggal, orangtuanya masih saja
membenciku, mereka sama sekali tidak mau membantu, aku bekerja serabutan di
Pekan Baru, Ris.., mulai jadi tukang cuci, pembantu rumah tangga, dsb, hingga
Mas Ranu meninggal, keluarganya, hanya memberiku uang sekedarnya untuk
penguburan Mas Ranu, hingga aku terpaksa menjual rumah tempat tinggal kami
satu-satunya, dan dari sana aku membayar semua tagihan rumah dan hutang-hutang
pada tetangga, sisanya aku gunakan untuk berangkat ke Dumai, aku tidak sanggup
mengadu nasib disana Ris…." Kata-kata Mimi berhenti disini, disambut isak
tangisnya, sedang saya yang sedari tadi mendengarkan tak kuasa juga menahan
haru yang sudah sedari tadi menyesak di dada.
Setelah kami sama-sama tenang, saya
bertanya pada Mimi " Lalu apa rencanamu, Mimi ?".
Mimi tertegun… dia memandang saya nanar,
saya menundukkan pandangan, karena saya takut terbawa rayuan syetan. kemudian
dia mengulurkan tangan, memberikan seuntai kalung emas besar, "Sisa
hartanya " begitu kata Mimi.
"Ini untukmu Ris.., aku gadaikan padamu, pinjami aku uang untuk modal
usaha, dan kontrak rumah kecil-kecilan, aku tidak mau merepotkanmu lebih dari
ini Ris..".
Aku yang menahan haru, sontak mataku langsung mengalirkan sesuatu, walaupun aku
lelaki, namun hati ini bertindak sebagai makhluk tuhan yang berperasaan.
kembali kami hanyut dalam haru.
Pelan-pelan saya, meraih kalung itu dari
meja, menimbang-nimbang, pikiran saya melayang menuju sisa uang saya di amplop,
dalam tas, Jum’at kemarin saya baru saja mendapat lembur-an, sebagai pegawai di
suatu instansi, nilai lembur saya sangatlah kecil jika dibandingkan dengan
pegawai yang lain tentunya, tapi itulah sisa uang saya, saya mengeluarkan
amplop tersebut dari dalam tas, di kamar, semua saya infaqkan untuk Mimi,
semata mata karena ikhlas.
Mimi menatap amplop di tangan saya,
sejurus kemudian saya meletakkan amplop tersebut diatas meja sambil berkata
"Ini sisa uangku Mimi, kamu ambil, nanti sisanya, biar saya pikirkan
caranya, kamu butuh modal banyak untuk mulai usaha"
Keesokan harinya, saya menjual kalung Mimi, pada sahabat baik saya yang lain,
kebetulan ia seorang pemodal-muslim, yang baik hati,.. "Thanks ya
Hans".., saya menceritakan tentang keadaan Mimi pada mereka, Hans dan
Istrinya banyak membantu " Ya Allah limpahilah berkah pada orang-orang
baik seperti mereka".
Singkat cerita, Mimi bisa mulai usahanya dari modal itu, mengontrak rumah kecil
didekat rumah saya, Alhamdulillah !, sekarang ditahun kedua, usahanya sudah
menampakkan hasil, Mimi sudah sedemikian mandiri, banyak yang bisa saya contoh
dari pribadinya yang kuat yaitu Mimi adalah pejuang sejati, ulet, sabar, dan
kreatif.
Kuat karena Mimi enggan bergantung pada orang lain, dan tegar karena diterpa
cobaan bertubi-tubi, Mimi tetap, kokoh, dan tidak bergeming sedikitpun, dia
juga Smart, tahu dimana dia harus meminta pertolongan pada orang yang tepat,
dan tentu saja muslimah yang taat beribadah, hingga Allah pun tak enggan
membantunya.
Saya hanya berpikir dan yakin pasti ada jutaan Mimi-Mimi, diluar sana, akan
tetapi pastinya sangat jarang yang melampui cobaan bertubi-tubi seperti dirinya
dengan Indahnya.
Saya hanya ingin berbagi…..cobalah kita lihat, Mimi tetangga saya kini dan
setiap pagi selalu menyapa riang saya, wajah cantiknya kembali bersinar,
meskipun ia menyandang status janda. Yang kemudian dia tekun mendengar keluh
kesah saya pada setiap permasalahan saya hadapi setiap harinya, termasuk ketika
saya mulai mengeluh tidak betah dikantor sebagai pegawai sekian tahun, atau
ketika saya menghadapi badai kemelut usia yang yang sudah berkepala tiga, apa
kata Mimi
"Faris, Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan
seseorang atau Allah lebih tahu apa yang terbaik bagimu, sedangkan kamu
tidak".
Subhanallah ! Mimi, contoh kekuatan wanita muslimah, ada disana.
Dan jika saya sudah menyerah kalah pada permasalahan bertubi-tubi dalam hidup
saya, maka Mimi membawa saya menuju pintu rumah mungilnya, didepan pintunya,
saya melihat kepulasan tidur anak-anaknya di ruang tamu yang ia jadikan ruang
tidur, sedangkan kamar tidur ia jadikan dapur untuk memasak, (sungguh rumah
yang mungil) mereka berjejal pada tempat tidur susun yang reyot, dan juga
tempat tidur gulung kecil dibawahnya, tempat si sulungnya tidur, kemudian
katanya, "Lihatlah Ris, betapa berat menjalani hidup seorang diri, tanpa
bantuan bahu yang lain, kalau tidak terpaksa karena nasib, enggan aku
menajalaninya, Ris, sedang kamu, bersyukurlah kamu, masih memiliki masa depan
yang panjang ".
Duh, gusti betapa baik hati Mimi ini, betapa malu saya dihadapannya, cobaan
saya, tentu jauh lebih ringan dibanding dirinya, tapi betapa saya jarang
bersyukur, sering mengeluh, dan sering merasa kurang.
"Stupid mind in the Stupid ordinary
" Yang jelas watak Mimi dan kekuatannya menumbuhkan satu prinsip dihati
saya bahwa " Karena aku adalah lelaki, aku harus kuat dan tegar lebih dari
wanita ini dalam menghadapi badai sekeras apapun, jika mungkin jauh lebih kuat
dan tegar demi tangan-tangan mungil yang mungkin akan menjadi tangan-tangan
perkasa yang siap mencengkram dunia, Insyaallah Amien"
Singkat cerita, saya pun berhenti dari pekerjaan yang lama, sekarang saya
bekerja lebih mapan dari yang dulu. Karena setiap pulang kerja saya melintas
didepan rumah Mimi, dan terus memperhatikan ketegarannya, akhirnya Allah
menumbuhkan kembali cinta dihatiku. Sampai suatu saat aku pun melamarnya agar
hubungan kami dihalalkan oleh syari’at. Mimi hanya bisa menunduk malu dan
tersenyum melihat anak-anaknya yang akan memiliki ayah yang baru. Dalam hati,
Mimi bertakbir dan bertahmid melihat kekuasaan Allah.. Allahu Akbar…